Ifaktanews.com – Cisoka, Kabupaten Tangerang, Peringatan hari jadi Cisoka ke-44, yang dihitung sejak pembentukannya pada tahun 1982, menjadi momentum istimewa yang dirangkaikan secara khidmat melalui aksi sosial berupa pemberian santunan kepada anak yatim, sekaligus peluncuran resmi identitas budaya lokal berupa Batik Cisoka. Acara berlangsung pada Rabu, 30 September 2026.
Hadir dalam kegiatan tersebut, Asisten Daerah (Asda) I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Kabupaten Tangerang, Prima Saras Puspa; serta Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Disporabudpar) Kabupaten Tangerang, Asep Suherman.
Camat Cisoka, Sumartono, menyampaikan bahwa rangkaian acara ini mencerminkan keseimbangan antara kepedulian sosial terhadap sesama dan kebanggaan atas kekayaan warisan daerah. “Melalui peluncuran Batik Cisoka, kecamatan ini tidak hanya memperkuat komitmen terhadap City Branding berbasis kearifan lokal, tetapi juga mendorong roda ekonomi kreatif masyarakat dan para pelaku UMKM setempat,” ujarnya.
“Alhamdulillah, pada hari ini telah terlaksana peringatan hari jadi Cisoka ke-44. Memang dari tahun ke tahun kita melaksanakan peringatan hari jadi Cisoka dengan nuansa keagamaan, dan Alhamdulillah hari ini kita juga bisa berbagi kepada anak yatim,” tambah Sumartono.
Lebih lanjut, Sumartono menjelaskan bahwa Pemerintah Kecamatan Cisoka secara resmi meluncurkan Batik Cisoka sebagai batik khas daerah. Motif batik ini mengangkat kearifan lokal yang menonjolkan karakteristik khas wilayah Cisoka, meliputi motif bambu, bunga asoka, bunga cempaka, kubah masjid, serta komoditas khas pertanian lokal.
“Pada peluncuran Batik Cisoka ini, terdapat lima unsur utama. Pertama, warna ungu, yang merupakan ciri khas Kabupaten Tangerang. Kedua, diambil dari nama Cisoka, yang menurut cerita rakyat berasal dari tiga versi; salah satunya adalah bunga asoka yang konon mengeluarkan embun di pagi hari, digunakan untuk berwudhu. Versi lainnya berasal dari kisah perseteruan Ki Daeng dan Ki Laeng yang kemudian disatukan oleh Syeh Mubarok, hingga muncul air mata kebahagiaan — ‘Ci’ berarti air, dan ‘Soka’ berarti mata. Dari versi-versi tersebut, kita mengambil simbol bunga asoka sebagai salah satu identitasnya,” papar Sumartono.
“Selanjutnya ada bunga cempaka, yang diambil dari nama Desa Cempaka. Konon, di sana terdapat makam Nyi Mas Cempaka, sosok yang ikut berjuang di wilayah Kabupaten Tangerang sebelum masa perjuangan Nyi Mas Melati. Kemudian ada bambu, yang melambangkan bahwa sekitar 30 persen wilayah Cisoka ditumbuhi tanaman bambu. Terakhir, terdapat simbol keagamaan Islam, yang diambil dari ornamen-ornamen yang biasa kita temukan di masjid atau mushola. Kelima simbol inilah yang kami gunakan untuk menggambarkan ciri khas Cisoka, sehingga terpenuhi nilai sejarah, filosofi, dan kearifan lokalnya,” jelas Sumartono. ( Riska)









