Ifaktanews.com – TANGERANG — Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Tangerang, Erwin Mawandy, mengapresiasi aksi nyata yang dilakukan oleh Eco Rangers dalam upaya mewujudkan Kabupaten Tangerang yang lebih hijau, bersih, dan berkelanjutan.
Acara ini sekaligus menjadi momen penyerahan piagam penghargaan kepada para penerima Hibah Microgrant Youth Climate Action Fund (YCAF) 2026 — sebuah program global yang didukung oleh Bloomberg Philanthropies — yang secara resmi akan diserahkan oleh Bupati Tangerang, Moch. Maesyal Rasyid. Selain penyerahan penghargaan, kegiatan juga diisi dengan penanaman pohon bambu di area Danau Puspemkab Tangerang serta penyiraman cairan eco enzyme ke dalam danau.
Erwin Mawandy menjelaskan, pemberian penghargaan dan penyaluran dana hibah dari Bloomberg Philanthropies, Amerika Serikat, ini ditujukan bagi kelompok anak muda yang telah menyusun gagasan inovatif terkait lingkungan hidup. Agenda penanaman pohon bambu dan penyiraman cairan eco enzyme di danau menjadi simbol nyata komitmen pelestarian lingkungan.
“Cairan eco enzyme ini berfungsi untuk memperbaiki kualitas udara, air, maupun tanah,” ungkap Kepala Bappeda Kabupaten Tangerang, Erwin Mawandy, di lokasi kegiatan, Selasa (27/10/2026).
Cairan eco enzyme tersebut, lanjut Erwin, diproduksi langsung oleh kelompok anak muda dan siswa sekolah.
“Jika kita lakukan secara masif, terutama pada sungai-sungai yang tercemar, eco enzyme ini secara perlahan dapat memperbaiki kualitas air, udara, maupun tanah,” terangnya.
Total dana hibah yang digulirkan oleh Bloomberg Philanthropies mencapai US$40.000 atau setara dengan Rp750 juta, yang akan didistribusikan kepada 12 kelompok pemenang di wilayah Kabupaten Tangerang. Erwin juga membuka kemungkinan jumlah kelompok penerima dapat bertambah di masa mendatang.
Ke-12 kelompok muda ini menghadirkan gagasan yang beragam: ada yang mengembangkan aplikasi pemantauan kualitas udara, membuat lubang biopori, hingga memproduksi eco enzyme dari sampah organik untuk memperbaiki kualitas air, udara, dan tanah.
“Ke-12 pemenang ini masing-masing memiliki gagasan yang berbeda-beda, namun pada intinya berfokus pada bagaimana gagasan tersebut dapat memperbaiki kualitas lingkungan hidup,” jelas Erwin.
Salah satu pemenang dengan gagasan eco enzyme, Ananda Cahaya Latif, siswi SMPN 7 Pasar Kemis, menceritakan bahwa idenya bermula dari keprihatinan terhadap kondisi Sungai Cilongok yang mengalir tak jauh dari sekolahnya. Air sungai yang tercemar dan menimbulkan bau tidak sedap mendorong kelompoknya mencari solusi.
“Karena sekolah kami dekat dengan aliran Sungai Cilongok yang kondisinya kurang baik dan berbau, kami terinspirasi untuk membuat cairan eco enzyme dari limbah organik guna membantu memperbaiki kualitas air sungai tersebut,” ungkap Ananda, didampingi oleh Parsih, guru Pendidikan Pancasila di SMPN 7 Pasar Kemis.
Ananda dan Ibu Parsih menjelaskan, bahan dasar pembuatan eco enzyme sangat sederhana dan ramah lingkungan, yaitu sampah organik sisa makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Bahannya berupa kulit buah, sisa sayuran, gula merah, dan air dengan perbandingan 3:1:10. Campuran ini lalu didiamkan selama 90 hari,” jelasnya.
Atas keberhasilan meraih penghargaan ini, Ananda Cahaya Latif beserta Ibu Parsih menyampaikan terima kasih kepada Bappeda Kabupaten Tangerang. Ia berharap inovasi sederhana namun bermanfaat ini dapat menginspirasi masyarakat luas, tidak hanya di Kabupaten Tangerang, tetapi juga di tingkat nasional bahkan internasional.
Penulis : Resa









